Bagi yang bergerak di dunia pendidikan, setiap pergantian kalender akademik selalu membawa semangat baru. Spanduk-spanduk mulai bertebaran, twibbon media sosial mulai ramai, dan grup WhatsApp guru mulai sibuk mempersiapkan administrasi.
Namun, coba perhatikan lebih jeli tulisan di spanduk atau surat resmi yang sering kita buat. Manakah istilah yang Anda gunakan? “Tahun Ajaran Baru” atau “Tahun Pelajaran Baru”?
Sekilas, kedua istilah ini terlihat kembar identik. Banyak dari kita yang menggunakannya secara bergantian tanpa beban. Namun, sebagai pendidik yang menjadi garda terdepan literasi, penting bagi kita untuk bedah tuntas: Mana yang sebenarnya paling tepat dan baku?
Yuk, kita bahas secara santai tapi mendalam agar tidak ada lagi kebingungan di antara kita!
Dua-duanya Baku, Tapi Punya “Rumah” yang Berbeda
Langkah awal untuk meluruskan benang kusut ini adalah dengan melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Secara kebahasaan, baik Tahun Ajaran maupun Tahun Pelajaran adalah bentuk yang baku. Keduanya sama-sama sah secara linguistik.
Lantas, di mana letak perbedaannya? Jawabannya ada pada subjek dan proses yang ditekankan di dalamnya.
1. Tahun Pelajaran: Fokus pada Proses Belajar-Mengajar (SD, SMP, SMA, Madrasah)
Berdasarkan regulasi resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Kementerian Agama, istilah resmi yang wajib digunakan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah Tahun Pelajaran.
- Mengapa demikian? Kata dasarnya adalah ajar, yang mendapat konfiks pe-an menjadi pelajaran. Istilah ini menekankan pada proses atau aktivitas belajar-mengajar secara dua arah antara guru dan murid.
- Di madrasah atau sekolah, fokus utama kita adalah membentuk ekosistem pembelajaran yang interaktif dan menyeluruh. Oleh karena itu, dokumen resmi kenegaraan seperti Ijazah, Rapor, dan Kalender Pendidikan selalu menggunakan istilah ini.
Contoh Penggunaan yang Tepat:
- “Selamat Datang Peserta Didik Baru di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Jannah, Tahun Pelajaran 2026/2027.”
- “Berdasarkan Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran ini, Penilaian Akhir Semester akan dimulai pekan depan.”
- Rapor Hasil Belajar Siswa Tahun Pelajaran 2025/2026.
2. Tahun Ajaran: Fokus pada Pemberian Ilmu (Perguruan Tinggi & Umum)
Sementara itu, istilah Tahun Ajaran lebih menitikberatkan pada tindakan mengajar atau transfer ilmu dari satu arah (pendidik kepada yang dididik).
- Mengapa digunakan di kampus? Di perguruan tinggi, fokus utamanya adalah pengajaran (teaching), yang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Itulah mengapa dunia perkuliahan atau masyarakat umum lebih akrab dengan istilah ini.
Contoh Penggunaan yang Tepat:
- “Universitas Muhammadiyah Kuningan membuka penerimaan mahasiswa baru untuk Tahun Ajaran 2026/2027.”
- “Kalender akademik Tahun Ajaran baru bagi mahasiswa tingkat akhir telah dirilis.”
Mengapa Pendidik Harus Tertib Menggunakan Istilah Ini?
Mungkin ada yang berargumen, “Ah, yang penting kan maksudnya sama, kenapa harus ribet?”
Sebagai civitas akademika, ketertiban dalam berbahasa bukan sekadar urusan memilih kata, melainkan cerminan dari ketelitian administratif dan kepatuhan terhadap regulasi. Ketika madrasah kita menggunakan istilah Tahun Pelajaran di setiap surat, spanduk, dan media sosial, itu menunjukkan bahwa kita:
- Melek Regulasi: Mengikuti standardisasi dokumen yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama dan Pemerintah.
- Edukasi Publik: Secara tidak langsung, kita sedang mengedukasi orang tua siswa dan masyarakat luas tentang penggunaan istilah yang benar.
Kesimpulan: Mari Mulai dari Madrasah Kita!
Mulai hari ini, mari kita seragamkan garis perjuangan literasi kita. Untuk seluruh administrasi, ucapan selamat, pamflet digital, hingga takarir (caption) media sosial madrasah, pastikan kita menulis: Tahun Pelajaran.
Pendidikan yang berkualitas dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten dan benar. Mari beri dedikasi terbaik untuk dunia pendidikan dengan menjadi pelopor literasi yang tertib dan bijak.
Selamat menyambut masa pembelajaran yang penuh berkah, salam hangat untuk seluruh pejuang pendidikan di Indonesia!
Editor: Udin Solehudin